Thank You Lord

I thank You Lord for the trials that come my way,
in that way I can grow each day as I let You lead.
And I thank you Lord for the patience those trials bring
in the process of growing I can learn to care.

img_2053
Ethan’s First Birthday: Jakarta, 7 February 2016

But it goes against the way I am, to put my human nature down and let the spirit take control of all I do.
Cause when those trials come my human nature shouts the things to do and God’s soft prompting can be easily ignored.

img_4068
Turned out to be our last family photo

I thank you Lord with each trial I feel inside,
that You’re there to help lead and guide me away from wrong.
Cause you promised Lord that with every testing
that your way of escaping is easier to bear.

img_4096
Farewell Papa: 8 September 2016

I thank you Lord for the victory that growing brings,
in surrender of everything life is so worthwhile.
And I thank you Lord that when everything’s put in place,
out in front I can see your face and it’s there you belong.

-Dan Burgess

Wanita sebagai “inkubator” dan “life-giver”

Seperti yang kita ketahui, Tuhan mengaruniakan wanita sebuah rahim untuk dapat mengandung, dan kekuatan yang luar biasa untuk melahirkan bayinya. Wanita diciptakan untuk memberikan new life bagi bayinya untuk hidup di dunia. Peran wanita sebagai life-giver ini gak hanya secara fisik “mengandung dan melahirkan” seorang bayi, tapi ia juga bisa disebut sebagai “inkubator”, karena naturnya untuk develop dan give new life to things. Jadi intinya wanita punya ‘rahim’ secara fisik, emosi, mental, dan spiritual. 

Everything about her is a womb. Wanita menerima banyak hal, kemudian dipupuk dan dirawat sampai matang, lalu dikeluarkan kembali dalam bentuk yang fully developed. Contoh yang paling nyata waktu seorang wanita hamil. Ia menerima sperma, lalu sel2 embrio mulai bermultiplikasi di dalam lingkungan yang nurturing di dalam rahim; sampai akhirnya seorang bayi yang fully formed dilahirkan dan mempunyai kehidupannya sendiri.
Banyak wanita yang ga sadar bahwa mereka begitu diberkati dengan tujuan yang luar biasa. Semuanya kembali kepada tujuan dan desainnya Tuhan. Natur nya wanita adalah sebagai receiver, makanya ia bisa menerima benih dari pria dan create a new human life. Ga cuma sekedar menerima aja, tapi wanita juga mampu men-transform apa yang dia terima untuk diubahkan jadi sesuatu yang remarkable. Makanya ia disebut sebagai inkubator.

Waktu wanita menerima suatu ide dan mengeraminya, ide itu akan jadi luar biasa – lebih besar, lebih kuat, dan lebih dinamis. Whatever you give a woman, she’s going to multiply. If you give her sperm, she’ll give you a baby. If you give her a house, she’ll give you a home. If you give her groceris, she’ll give you a meal. If you give her a smile, she’ll give you her heart. She multiplies and enlarges what is given to her. 

Di sisi lain… Gift sebagai inkubator ini punya 2 sisi. Bisa konstruktif atau malah destruktif, tergantung apa yang dia terima. Contoh: Ketika pria bersikap dominan/ otoriter kepada wanita, wanita itu akan “hamil” dengan kepahitan yang terus diterimanya tahun demi tahun. Pada suatu titik tertentu, penderitaannya akan ada batasnya, dan apa yang dia kandung menjadi “matang”. Wanita itu bisa aja diam selama bertahun-tahun “mengandung” hal2 yang menyakitkan, sampai2 pria ga sadar sampai tiba saatnya “bayi” itu dikeluarkan; wanita akan berkata “That’s it. I’ve had it. I want you to leave.” Lalu pria akan bertanya2, “what happened? I’ve been doing just what I have been doing for the last ten years.” Pria akan wondering hal salah apa yang pernah dia lakukan, tapi “bayi” kepahitan itu sudah lama ada dalam diri si istri, terus bertumbuh dan berkembang. 

Bertahun2, saya mengajarkan pria2 untuk berhati2 terhadap apa yang mereka berikan/ tanamkan kepada wanita; karena itu akan kembali kepada pria itu sendiri -dengan bentuk yang berbeda dan lebih kuat. Sesuatu yang mungkin tidak pernah diduga. Contoh, seorang pria bilang kepada istrinya dalam sebuah argumen, “Harusnya gue ga pernah married sama lo!”. Istrinya akan marah ketika mendengarnya, dia mengunci dirinya dalam ruang emosinya. Kata2 itu akan terus masuk ke dalam hatinya seperti sperma yang masuk menuju sel telur dalam proses pembuahan. Apa yang dilakukan istri itu? Dia mengeraminya/ she incubates it. 10 tahun kemudian, ketika sang suami bilang “sayang, aku suami yg paling beruntung menikahimu”, istrinya akan jawab “tapi kamu ga berpikir seperti itu 10 tahun lalu”. Si istri masih “mengandung” kepahitan itu. 

Pria cenderung forget things. Dia bilang lg, “kamu ngomong apa sih?”. He forgets. Tapi si istri? Dia ingat tanggalnya, waktunya, kondisi waktu itu terjadi, siapa yg ada disana, warna baju yang dia pakai. She incubates things. 
Pria berbeda karna mereka ga punya rahim. Kalo kita iseng bilang ke pria “jelek lu”. Dia paling hanya akan balas “lu juga jelek”. Terus dia akan lupa akan kejadian itu. Tapi coba lakukan hal yang sama ke wanita, dia akan ingat itu selamanya! 

Woman will incubate your words, so you have to guard what you say. Ini ga cuma berlaku terhadap hubungan suami istri aja, tapi pria & wanita secara general, juga wanita terhadap wanita. Kalau ada wanita yang bilang ke teman wanitanya, “rambutmu agak aneh hari ini”. Si teman itu akan bawa statement itu sampai pulang ke rumah, incubates it, builds it and develop it. Women forgets nothing. 

Ladies, mungkin suamimu ga bisa memenuhi apa yang jadi kebutuhanmu. Tapi kamu bisa mengambil apapun yang terbaik dari apa yang dia berikan, incubate it, and give life to it. Minta Tuhan untuk memberikan visi dan ide2 yang baik dariNya dan Ia akan mengisimu dengan hal2 yang baik. Tuhan telah memberikan kemampuan yang luar biasa kepadamu dan kamu akan menjadi berkat bagi banyak orang dengan merefleksikan natur dari Tuhan yang adalah Pencipta dan Life Giver. 

[terjemahan bebas dari buku Understanding the Purpose and Power of WOMAN. A book for women and the men who love them. Dr Myles Munroe]

31 weeks: Ethan is arrived!

Saat mengingat 2 minggu terakhir menuju proses melahirkan, hanya ada haru dan ucapan syukur yang limpah, merasakan betapa luar biasa penyertaan Tuhan dan His timing is always…. PERFECT.

30 weeks.
Satu minggu setelah episode bleeding di 29 weeks, kembali datanglah bleeding episode kedua, tepatnya di hari Kamis, 29 Januari. Kali ini bleeding disertai dengan tightening, yang rasanya kayak sakit waktu mens di perut bagian bawah. Setelah dimonitor beberapa jam dan tidak kunjung membaik, maka pihak rumah sakit RPAH memutuskan untuk mentransfer kami ke rumah sakit lain, karna nursery RPAH lagi penuh dan ga bisa terima bayi premature lagi.

Aku bisa mendengar dokter menelpon beberapa rumah sakit yang nursery (khususnya NICU/Neonatal Intensive Care Unit) nya masih available. Dan penolakan demi penolakan. Penuh, penuh, dimana-mana penuh. Jadi inget waktu Maria & Yusuf lagi cari tempat untuk melahirkan bayi Yesus ya. (Sok nyama2in). Hehehehe. Eh puji Tuhan, setelah bernegosiasi panjang, akhirnya ada 1 tempat tersedia di RHW Randwick. Deal. PR banget tuh buat midwife untuk fotokopiin histori panjang selama kehamilanku, sampai akhirnya cuussss… pindahlah kita ke RHW dengan ambulans. Wow, first time experience naik ambulans! Keren kita Dek… πŸ˜€

Sesampainya disana langsung dibawa ke Delivery Suite, yang adalah kamar untuk proses melahirkan terjadi. Disana kami terus dimonitor, perutku dipasangin CTG berjam-jam untuk memastikan detak jantung bayi ga menunjukkan tanda2 dia distress. Lewat 1 hari, sampai akhirnya semuanya settled down dan kami dipindah ke Antenatal Ward. Naahhh, disinilah aku terserang penyakit melankolis bin cengengitis. Penyebab utamanya adalah karna aku ditempatin di share room, jadi ga boleh ada yang nginep untuk temenin aku. Cupu banget yaaa.. Aku jadi mellow dan cenderung stress karna setiap hari aku masih bleeding, tanganku masih dicolok cannula (tempat masukin cairan infus), ughhh rasanya ribet banget harus melakukan apa2 sendiri. Biasanya tinggal “Ma, tolong ini. Dear, tolong itu”. Phew, so GRATEFUL for them! Plus yang namanya share room tentu harus menghormati tetangga sebelah. Jadi kalo mau meringis kesakitan mesti tahan2, jangan sampe terlalu mengganggu.

Singkat cerita, dalam satu minggu itu, tightening/ kontraksi itu makin intens. Paling ngga, dalam satu hari ada kontraksi yang jaraknya 7 menit sekali. Kalau udah berasa sakit, ya panggil midwife minta pain killer. Sempet ada 1x diturunin lagi ke Delivery Suite untuk di speculum (ini alat bentuknya aja udah horror banget), yang tujuannya untuk cek apakah cervix sudah terbuka apa belum. Dan hasilnya selalu “your cervix is still long and closed”. Kemungkinan besar banyaknya kontraksi ini karna irritable uterus, karna sudah banyak air dan darah yang keluar.

30 weeks + 6 days.
Jumat, 6 Februari jam 12 siang, aku mulai merasakan kontraksi yang makin kuat. Makin sakit rasanya. Coba minum pain killer, ga pengaruh sama sekali. Makin sore, makin sering, makin sakit. Midwife coba kasi morfin untuk menghilangkan rasa sakitnya. Nope, it didn’t work. Surya yang memang selalu datang tiap sore, kali itu diminta stay sama 1 midwife, namanya Oona (Dia yang biasanya ngusirin Surya pulang hehehe). Kali itu dia bilang, “Hubby, you stay. Maria my dear, my feeling say this is the time now. I know you’ve been holding it for so long. It’s ok to have the baby now. He’ll be fine.” Dia ngomong gitu sambil usap2 tangan dan pipiku. Haiyaaa, jadi mewek saya digituin.. :’) Kami kembali dikirim ke Delivery Suite for further monitoring. Total sepanjang hari itu sudah 12 jam perutku terlilit dengan CTG.

31 weeks.
Sabtu, 7 Februari. Terhitung jam 7 malam, 30 jam sudah 2 pain killer diminum, 4 morfin disuntik, semuanya ga ada yang mempan. 4 kali speculum test menyatakan cervix masih closed. Cuma hasil terakhir sudah menyatakan cervix sudah short dan ketebalannya 1cm. Aku tanya ke midwife, dengan kondisi cervix seperti itu kira2 berapa lama lagi aku akan melahirkan? Jawabnya, “oh ada yang hitungan jam, ada yang hitungan minggu.” JENG JENG! Mereka masih berharap ada 1 form of pain killer yang bisa menghentikan kontraksiku, yang sudah makin kuat dan makin sering (4-7 menit sekali). Aku sudah bukan lagi meringis atau merintih, tapi sudah teriak sambil remes2 tangan Surya. Akhirnya jam 7 malam itu, dokter masuk dan bilang, “OK. Kita sudah ga bisa kasi pain killer macam lain lagi. Kita sudah komit untuk melahirkan bayi ini” OH FINALLY!!! Itu yang terlintas pertama dalam pikiranku. Aku sudah ga tahan. Cape sekali kontraksi 30 jam ga berhenti. “Kita kasi kamu 2 pilihan. I know you’ve been through a lot of things. Kamu boleh pilih: mau Caesar atau lahiran normal. Dua2nya kita pake Epidural untuk hilangin rasa sakitmu.” Ajaib, ternyata plasenta yang selama ini menutupi cervix sehingga aku didiagnosis Placenta Previa ternyata di minggu terakhir plasentanya naik keatas dan ga tutupin cervix lagi. God is soooo good!

Aku yang selama ini selalu dibilang PASTI bakal lahiran Caesar, pas dikasi pilihan bisa lahiran normal, langsung happy tapi deg-degan. Lha ga prepare apapun! Ga tau caranya gimana push lah, ga kebayang sama sekali prosesnya gimana. Dengan telatennya, midwife jelasin gimana proses lahiran normal dan gimana kalo Caesar. Kami tau lahiran normal akan jauh lebih baik untuk baby, khususnya paru2nya. Memang prosesnya akan lebih lama dibanding Caesar; tinggal operasi buka perut, done, selesai. Tapi kalau aku boleh memilih, ini jadi hal terakhir yang bisa aku lakukan untuk bayiku selama dia masih di kandunganku. Kami putuskan untuk lahiran normal.

7:30pm – aku mulai disuntik epidural. OH THANK GOD FOR EPIDURAL! Kontraksi yang makin kuat sudah tidak terlalu terasa lagi.

8:30pm – aku mulai diinduksi untuk merangsang kontraksi semakin banyak.

10:00pm – dokter notice kalau detak jantung baby sudah mulai tinggi. Ini bisa jadi tanda2 baby distress di dalam. Dokter perlu cek dengan ambil sample darah dari kepala baby. Kalau memang baby distress, kita harus segera melakukan emergency caesar surgery. Midwife cek cervixku “masih bukaan 1.” Oh nooo… Masa aku ujung2nya caesar juga, pikirku.

10:05pm – dokter kembali dengan peralatannya untuk ambil sample, dan suddenly i felt the urge to poo. Aku bilang ke midwife, “I think I wanna poo.” Itu kalimat sakti yang dari tadi ditunggu sama mereka. Dokter masih minta aku buka kakiku untuk ambil sample, dan dia langsung bilang “Oh wow, I can see his head clearly!”
Midwifeku (ohya, namanya Joanna) langsung kaget, “What? Let me check.” Sekali lagi dia masukin jarinya, lalu berkata “Woww, ini sih udah bukaan 8. Udah bisa push ini.” Tuhan dengar doaku!

10:12pm – mulai lah proses push mem-push dimulai. Surya ajaibnya berani melihat semua proses itu, termasuk waktu dipanggil untuk melihat kepala baby yang sudah keluar. Bener2 Tuhan siapkan Surya juga. Padahal dulunya, dia selalu bilang ga akan mau masuk temenin aku lahiran. Ga mau disuruh potong tali pusar. Pokoknya ga berani. Tapi segalanya berubah, Surya jadi berani liat apapun dan menemani sepanjang proses melahirkan. Unreal!

10:20pm – Kira2 dalam hitungan 4-5 push, baby Ethan Immanuel Putera lahir dengan berat 1,6kg; dengan mengeluarkan suara tangis yang tidak terlalu kencang, tapi cukup membuat kami lega, karna dia datang dengan menangis, bukan diam. Seketika aku menangis uncontrollable. Penuh haru, penuh ucapan syukur, melihat anugerah Tuhan yang sungguh ajaib baru saja keluar dari tubuhku. Hitungan detik Ethan ditaruh di perutku sebelum akhirnya Surya memotong tali pusarnya dan Ethan langsung diangkat untuk dianalisa paru2nya.

Ethan sangat lemah saat itu kata dokter. Dia butuh oksigen 100% dengan bantuan alat. Ia segera dibawa ke NICU untuk penanganan lebih lanjut. Tapi terpujilah Tuhan, Sang Pemberi Hidup, Ethan selalu dalam perlindungan Tuhan. Hari ke hari, progressnya cepat dan semakin membaik. Anugerah Tuhan melimpah bagi kami.

Banyak sekali hal yang kami sungguh syukuri.
– Kami bersyukur kami berada di tempat yang tepat. RHW adalah rumah sakit yang terkenal baik NICU nya. Aku ga memilih RHW awalnya, tapi Tuhan aturkan untuk aku berada di situ.
– Aku yang tadinya ga bisa lahir normal, Tuhan aturkan untuk bisa lahir normal.
– Kehamilanku yang tadinya diperkirakan ga survive, akhirnya bisa melewati waktu2 yang diperkirakan dokter, dan mengikuti waktu yang sudah Tuhan tentukan.
– Ethan lahir dengan organ dan anggota tubuh yang lengkap. Walau paru-parunya belum berkembang sempurna, tapi Tuhan terus menyempurnakan hari demi hari.
– Tuhan juga karuniakan ASI yang langsung bisa keluar sehingga bisa memberi nutrisi yang baik untuk Ethan.
– Kami ga keluar uang sepeser pun selama masa kehamilan dan melahirkan, karna ditanggung oleh pemerintah dengan Medicare. Terimakasih banyak pemerintah Australia! Padahal kalo bayar ya, 1 malam nginap untukku aja $1,770 dan untuk baby di NICU $4,440/ malam. Ga kebayang kalo kejadian di Indo, kami harus bayar berapa banyak?
– Para dokter, bidan dan suster yang sangat helpful dan caring. May God richly bless them all!
– Bantuan, dukungan moril dan doa2 dari keluarga dan teman2 yang sungguh2 menguatkan kami setiap hari. Terima kasih tiada henti kami ucapkan.
– dan masih banyak hal yang sungguh kami syukuri melalui pengalaman berharga ini.

I’m a mom now! Unbelievable. He makes all things beautiful in His time..

Grace alone, which God supplies.
Strength unknown, He will provide.
Christ in us, our Cornerstone.
We will go forth in grace alone.
– Scott W. Brown

29weeks: Besar AnugerahNya

Hari ke-10 menikmati AC nginap di Rumah Sakit πŸ˜€ Well, ga full 10 hari sih, Sempat dikasi pulang di hari ke-4 karna kecurigaan infeksi dari cairan yang keluar sudah hilang dan bisa diatasi pakai antibiotik. Hari ke-5 balik lagi ke RS untuk rutin kontrol dan everything was alright. Tapi ternyata tengah malamnya, mulai episode bleeding yang pertama. Nginep di RS lagi deeeh ^___^*

Little Dearie lagi melukis pelangi 2 minggu terakhir ini. Cairan yang keluar bukan lagi warna bening seperti air, tapi ada warna peach, kuning, kuning kehijauan, pink darah campur air, sampe bener-bener merah darah. Mejikuhibiniu deh. Jumlah keluarnya juga bervariasi dari setetes sampe yang paling parah 6-7 pads dalam sejam.

Komplikasi lain yang aku alami selain PPROM (air ketuban bocor dini) yaitu Placenta Previa yang artinya letak plasenta “sang-supplier-nutrisi” berada di bawah, dekat cervix dan menghalangi jalan keluarnya baby lewat vaginal birth. Kondisi kayak gini biasanya memang akan mengalami pendarahan di awal trimester ketiga, karna baby makin besar dan uterus makin tipis.

Pendarahan terparah sejauh ini yaitu di hari ke-7. Tiba-tiba darah keluar ngocor sampai abis 6-7 pads dalam sejam (Duh, sorry disturbing banget ya ini kalo dibayangin). Kejadiannya jam 7:30pm, lagi sendirian di room karna Mama & Surya lagi pas ganti shift. Panik karna darah ga berhenti ngucur, aku pencet tombol untuk panggil Midwife. Aku sebenernya lagi di Postnatal Ward (Antenatal lg penuh) yang mana pasiennya lebih banyak dan jarak waktu dari pencet tombol sampe Midwifenya dateng itu bisa 5-10 menit. Jujur aku akan kepayahan kalau harus pencet tombol Emergency karna itu butuh posisi duduk & balik badan; yang mana sulit dilakukan di menit itu. Nah, ajaib dan luar biasanya pertolongan Tuhan itu, cuma beberapa detik setelah pencet tombol eh si Midwife langsung datang! Ternyata itu jamnya mereka ganti shift dan sedang handover. Niamah (Midwife yg in-charge urusin aku) pas denger buzz bunyi dari kamarku langsung merasa perlu segera dateng untuk ngecek.

Begitu tau aku lagi pendarahan ga berhenti2, dia panggil bala bantuan Midwifes yang lain, panggil dokter, lalu dokter panggil anasthetist. Wah mendadak kamarku penuh sama kira-kira 8 orang. Aku udah lemas, deg2an, panik, takut, wah es campur banget deh. Surya dateng 15 menit setelah kejadian itu. Puji Tuhan jarak dari rumah ke RS cuma 10 menitan.

Tindakan pertama, aku langsung dipakein CTG scan untuk monitor kontraksi dan detak jantung baby. Lalu aku di pindah ke high-attention room, atau apalah namanya itu, yang lokasinya bener2 di depan meja para Midwife. Dalam kondisi pendarahan itu aku udah ngalamin kontraksi tiap 7 menit. Anasthetist udah menjelaskan prosedur & proses pembiusan, bahwa sebelum operasi aku akan dibius total karna posisi plasenta yang low lying membuat pelaksanaannya susah kalau cuma bius lokal.

Dokter memutuskan untuk pasang infus di tangan kiri kanan. Magnesium sulfate dan sodium chloride (cairan infus biasa). Magnesium sulfate itu gunanya untuk menunda proses lahiran dengan mengurangi kontraksi dan juga untuk melindungi otak bayi supaya ga distress. Efek diinfus magnesium bikin tubuhku serasa puanas di dalam, susah nafas, wah ga uenak pol. Mana aku udah ga boleh makan dan minum sejak siap2 mau operasi. Hoah, haus tak terkira!! Total lebih kurang 12 jam ga boleh minum air; cuma dibolehin minum dikiiit aja untuk minum obat pain killer (panadine sulfate) dan antibiotik. Tangan kiri kanan infusan, bawah juga dipasangin kateter. Selang dimana-mana.

Pendarahan masih lanjut sampe jam ke-2. Dokter mulai siapin theater untuk operasi C-section, sambil monitor perkembangan dari CTG scan. Jam ke-3 kontraksi mulai berkurang, pendarahan mulai stop. Little Dearie detak jantungnya baik2. Everything started to settled down. Dokter bilang kalau keadaan stabil, operasi ditunda, karna untuk baby 1 hari di perut ibu lebih berharga daripada dilahirkan terlalu dini. CTG mulai dicopot di jam ke-5. Magnesium sulfate dosis lambat masih diinfus. Selama itu pula tensi harus diukur 2 jam sekali karna bisa menyebabkan tekanan darah jadi rendah. Jam ke-8 tensiku turun. 1 botol sodium chloride dikasi lagi. Wah enak rasanya adem di tengah2 panasnya infusan magnesium.

Dari kejadian jam 7:30 malem sampe jam 5 pagi aku ga bisa tidur sama sekali. Tangan kiri yang diinfus magnesium rasanya sakiiit kayak nyetrum2. Sepanjang 12 jam yang ga boleh minum dan ga bisa tidur itu, aku cuma mengulang-ulang Mazmur 23 sambil nyanyi dalam hati, “Tuhan adalah Gembalaku. Takkan kekurangan aku. Ia membaringkan ku di padang yang berumput hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang, Ia menyegarkan jiwaku….. Sekalipun aku dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku.” Water.. Water.. My Living Water, my Shepherd, oh how I need you.. I found strength by repeating this passage over and over again.

Perasaan baru lega setelah magnesium diberhentikan di jam 7 pagi dan aku sudah boleh makan minum. Horeeee!! Praise the Lord! Langsung minum air sebanyak-banyaknyaaa! Wah rasanya kayak baru pulang dari padang gurun yang kering. Satu hari lagi Tuhan melewatkan aku dari lembah kekelaman. Satu hari lagi Tuhan kasi waktu untuk Little Dearie bisa berada di dalam kandunganku. Dan ternyata ga cuma satu hari, hari ini Little Dearie udah 29 minggu! 3 hari pasca kejadian itu.

Saat ini pendarahan dan bocornya air masih happening on and off. Kontraksi 7 menit sekali juga masih muncul tiap malam. Mereka akan pasang CTG, kasi pain killer untuk kurangin kontraksi, dan terus monitor berapa banyak darah & air yang keluar. Setiap malam aku dilewatkan lagi untuk belum lahiran. Sejauh ini dokter hanya punya plan: wait and see. Tiap malam selalu bisa ada kemungkinan antara aku harus lahiran atau bisa melanjutkan kehamilan. Tujuan mereka pokoknya mempertahankan Little Dearie selama mungkin di perutku, sambil memonitor tiap episode yang terjadi. Apapun dan kapanpun itu, aku sudah berserah, dan percaya akan waktu Tuhan. Bagianku hanyalah tinggal tenang dan percaya, disitu terletak kekuatanku. Yesaya 30:15b. Tinggal tenang, selain pikiran dan hati, juga dalam hal ini termasuk bed rest: tidur, duduk, dan cuma jalan dari kasur-toilet-kasur. Hehehehe.

Beribu terima kasih buat teman2 dan keluarga yang setia menyelipkan nama kami di dalam doa kalian. It means so much for us, and we’re grateful to have you all. May God bless you with His overflowing grace.

Happy 29weeks for me & Little Dearie!
Soli deo gloria.

26 weeks: Getting Better!

First of all, happy new year to you all!

I am 26 weeks now! Woohooo, so thrilled!

tiaa

Seperti yang aku sebutkan di beberapa posting sebelumnya, bahwa titik aman pertama kasus PPROM yang aku alami ini adalah “to be able to reach 24 weeks”. And by the grace of God, kami berhasil melalui minggu 24! Yaynesss! Minggu ke-24 itu jatuh di tanggal 20 Desember. Satu hari sebelum hari ulang tahunku dan 5 hari sebelum Natal. Jadi kebayang dooonk gimana rasanya melewati minggu itu. Super happy and exciting moment! Apalagi Mama udah datang ke sini menemaniku.. Ohhh, I really can’t ask for more. Setelah Mama datang, berat badan langsung naik, nafsu makan bertambah, tambah happy pastinya πŸ™‚

I got a steroid injection di 23w+5d untuk bantu perkuat baby’s lungs. Baby growth is totally normal. Beratnya nambah kira-kira 100gr per minggu. 500gr di 22w, 700gr di 24w, dan sekarang udah 1kg di 26w! Aku sudah nambah berat badan 5,5kg so far. (Still ok some people said, tapi aku merasa bulat dan bundar :D) Untungnya sempat turun 3kg di trimester pertama, jadi itung-itung sedikit setback the weight.

Dan yang paling bikin happy hari ini karna ultrasound scan menunjukan Amniotic Fluid Index sebesar 8.8cm! Unbelievable! Memang index ini katanya tidak sepenuhnya akurat karna hari ini baby banyak gerak jadi terlihat banyak pocket dan bisa jadi nanti berkurang lagi katanya. Tapi gimanapun, melihat penambahan angka dari 4.5cm ke 8.8cm itu awesome banget rasanyaaaa! I believe that is God’s works.

“Puji Tuhan.. Puji Tuhan.. Puji Tuhan..” My mind, my heart, my mouth keep praising Him for His works. Salah satu dokter tadi juga bilang “I can’t believe you’ve made it this far.” Yes, of course,Β if God be for us, who can be against us?

Setelah titik aman di 24w sudah dilewati, target kami selanjutnya adalah 28w. 24w adalah tahapan dimana baby sudah bisa survive untuk hidup diluar kandungan ibu; dengan persentase normal:abnormal = 50:50. Nah kalo bisa sampai di 28w, persentase naik jadi 90:10, which is higher chance untuk baby lebih survive. Semakin mendekati 38-40w si baby di dalam kandungan, tentunya semakin baik. Pertumbuhan organ-organnya jadi semakin matang dan sempurna. Sungguh luar biasa karya Tuhan dalam pertumbuh kembangan bayi di dalam kandungan itu. Dan aku bersyukur diberi pengalaman seperti ini, yang membuatku lebih mengerti dan menghargai arti dari Mazmur 139:13-16

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenunΒ  aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur kepada-MuΒ  oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Dokter sempat meminta aku untuk masuk Rumah Sakit lagi sejak 24w, tapi karna waktu itu momennya Christmas & New Year dan dia lihat aku baik-baik saja (no sign of infection & labor), jadi dia kasi aku untuk boleh pulang. Makasih banget lho Pak Dokter! I have a great Christmas & New Year. At least 2-3 kali dalam seminggu udah mulai colong-colong keluar rumah, 1-2 jam untuk sekedar jalan-jalan, ke gereja, ngadem di mall, lunch di pantai πŸ˜€ Herannya malah setelah ga strict bed rest, malah air ketubannya ga begitu banyak keluar. Makasih banget ya Tuhan! Thanks juga buat Evan & Monica yang rajin ngajakin jalan-jalan. Hohoho.

Oh, I got a beautiful niece dari temen seperjuangan di Sydney dulu, Cristy & Chen. I am so happy for them.. Congratulation guys! Say hi to Abigail…. πŸ™‚

abigail

I hope you all had a wonderful Christmas & New Year as I did.

Thanks for the kind support & prayers! God bless πŸ™‚

Whispering Hope

Friday, 5 Dec 2014 04:21

There are times in my life, when I feel so weary.
Times when fear is come and prevail my mind.
Times when sorrow grows like there’s no tomorrow.
I am blind to see what future lies ahead. His plans are so blurry.

And You come and said,
β€œFor my thoughts are not your thoughts,
neither are your ways my ways,”
declares the Lord.
β€œAs the heavens are higher than the earth,
so are my ways higher than your ways
and my thoughts than your thoughts.”

I cried out in silence. My heart shattered into pieces.
I whispered to Him, I surrender all.

21 weeks: God is Our Hope

It’s been 2 weeks since they discharged me from hospital.
Selama 2 minggu itu, kita sudah 4 kali ke rumah sakit. 2 kali setiap minggu.
Senin – Kamis macam puasa πŸ™‚

Rutinitas yang harus aku lakukan adalah Blood Test, Swab Test (ambil sample cairan dari dalam vagina), cek tekanan darah, suhu tubuh, cek baby’s heartbeat. Lalu diakhiri dengan ketemu dokter/registrar yang akan menganalisa semua hasil, plus memutuskan apakah semua hasil oke sehingga aku boleh pulang ATAU ada hasil yang kurang oke sehingga aku harus dirawat inap.

Sejauh ini, all been good. Tidak ada indikasi infeksi (praise the Lord!) dan baby’s heartbeat selalu bagus (berkisar 150-170 bpm).

In contrast, si dokter spesialis obgyn (sebut saja Dr. BDV) setiap kali ketemu selalu menyarankan kita untuk mempertimbangkan termination of pregnancy. So discouraging. Setelah menjelaskan tentang risiko dari PPROM + Oligohydramnios yang aku cerita disini, pertemuan terakhir dia menjelaskan risiko kasus major placenta praevia yang juga adalah salah satu komplikasi yang aku alami saat ini.

Placenta Praevia adalah kondisi dimana posisi plasenta terletak di bawah uterus, terlalu dekat dengan cervix, sehingga menghalangi jalan keluar baby untuk vaginal birth. Dalam kasusku, diperkirakan kondisi ini ga akan berubah sampai aku lahiran karna kurangnya air membuat baby susah bergerak, sehingga plasenta pun otomatis susah bergerak ke atas layaknya normal pregnancy.

Dengan komplikasi seperti ini, Dr BDV kembali menyarankan untuk terminate kehamilan ini, karna dipastikan aku akan melahirkan dengan cara C-Section di bagian atas perut, bukan di bawah seperti normalnya Caesarian. Kondisi ini akan membuat aku hanya punya 1 pilihan cara melahirkan, ga akan bisa vaginal birth in the future. Ok, I don’t mind with that. Dan lagi katanya, akan ada kemungkinan aku akan experience bleeding di kehamilan2 berikutnya, bahkan saat aku lagi ga hamil sekalipun. Dan kalau hal tersebut sudah terlalu parah, kemungkinan besar rahimku harus diangkat untuk memberhentikan pendarahan itu. And it means no more babies.

Nyebelin banget ga tuh dokter?

I know it’s fact. Tapi sebel rasanya karna he seems so unsupportive. All I can hear is only negative things.

Satu-satunya kalimat positif dia:
“It is still your decision whether to continue or terminate this pregnancy.
Either way, we still give a good care of you.”

Anyway, I choose not bother what he said. I say to myself, only God is our hope. He DOES get me through this couple of weeks and He is able to sustain my baby’s life. Why would I terminate this baby?

Hari ini tepat 2 minggu setelah USG terakhir. 21w+2d. Finally got a chance to see the baby again!! So excited. I have prayed to God, “Lord please show your miracle. I believe You have done something good to me. May people see your greatness and amazing works.” Dan tadaaaa….

– Airnya nambah! Dari 2.9 cm jadi 4.5 cm.
– Tangannya bergerak. Terakhir kali kelihatan tangan baby kaku dan ga bergerak.
– Baby’s growth is normal, beratnya diperkirakan 475gr. Padahal rata2 bayi normal di 21w sekitar 360gr. I thought he might be smaller, but in fact he is even bigger than normal babies!
– And.. Did you notice what I said? I said HE!! Kemungkinan besar my baby is a baby BOY! He is indeed a fighter.

Things get better. Praise the Lord, God almighty!
Seneng banget denger kabar hari ini! Ga bisa berhenti mengucap syukur akan penyertaan dan perlindunganNya. I can’t thank Him enough.
My heart is full of thankfulness and adoration to Him!

Psalm 105:8 says, “He forever remembers His covenant, the promise He ordained for a thousand generations.” You don’t forget Your promises, and I thank You for that. You can do all things. You are the Creator of life. My hope is not dependent on myself or other people; You are my Source of strength. – Jennifer Polimino

Don’t give up my baby.. We are in good Hands.